SKELETONIZING

skletonizing

Apakah kamu ingin membuat kerangka daun seperti ini?

Ini istilahnya adalah pembentukan kerangka (skeletonizing) lebih tepat lagi skeletonizing daun.

membuatnya adalah:

1.       Rendam daun dalam air hujan atau air lumpur dalam wadah di luar rumah.

2.       Masukkan daun dalam wadah.

3.       Isi dengan air hujan.

4.       Tutup wadah, agar tidak dimasuki kotoran dan dijadikan sarang nyamuk (jentik-jentik nyamuk).

5.       Biarkan minimal 2 bulan.

6.       Pindahkan di wadah lain, cuci yang sudah busuk dan dibilas sampai bersih. Pada tahap ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan menggunakan sarung tangan.

7.       Keringkan diatas karton, lebih baik diangin-anginkan saja.

8.       Untuk pemutihan dilakukan dengan peroksida atau hydrogen peroksida (H202) atau soda api. Bisa didapatkan di toko-toko bahan kimia. Jika di Yogyakarta maka salah satunya pengalaman saya adalah di Brata Chem.

Namun ketika musim hujan tiba, maka caranya yang paling ampuh adalah dengan membiarkan daun didalam wadah untuk terkena derasnya air hujan. Pengalaman saya dengan daun sirsak adalah membiarkannya terpapar air hujan dan daun sudah bisa didapatkan sebelum sebulan penuh dan hasilnya adlaha seperti diatas. Daun yang bisa dibuat untuk skletonizing antara lain Annona muricata (sirsak) , Artocarpus heterophyllus (nangka) , Hevea brasiliensis(karet) , Ficus religiosa (pohon Bodhi).

 

Advertisements

Renungan sebelum bermaksiat

 

Ada seorang laki-laki mendatangi Ibrahim bin Adham, ia berkata, “Wahai Imam, saya ingin bertaubat dan meninggalkan seluruh dosa yang saya miliki. Jika suatu saat saya kembali melakukannya, tunjukkanlah padaku terapi yang dapat menghindarkan aku bermaksiat kepada Allah.”

Apakah Anda ingin seperti itu? Siapakah di antara kita yang tidak menginginkan bertaubat kepada Allah dan membuang seluruh dosa sejauh-jauhnya? Nasihat Ibrahim bin Adham itu:

Ibrahim Adham berkata, “Jika Anda ingin bermaksiat kepada Allah, maka jangan melakukannya di atas bumi Nya!” maka laki-laki itu bertanya, “Dimanakah saya dapat bermaksiat terhadapNya?” “di luar bumiNya”. Jawab Ibrahim bin Adham. “Wahai Imam, bagaimana hal itu dapat terjadi, sedangkan bola bumi ini dalam genggamanNya?” Tanya lelaki tersebut. “Tidakkah engkau malu bahwa bola bumi ini dalam genggamanNya namun engkau bermaksiat di atas bumiNya?” jawab Ibnu Adham.

Kemudian Ibrahim bin Adham berkata, “Jika Anda ingin bermaksiat kepadaNya, maka janganlah engkau memakan rezekiNya!”

Lalu laki-laki itu bertanya, :Maka, bagaimanakah saya dapat hidup?” Ibrahim berkata, “Tidakkah Anda malu memakan rezekiNya sedangkan Anda bermaksiat kepada Allah?”

Kemudian Ibrahim melanjutkan perkatannnya, “Jika Anda bersikeras bermaksiat kepada Allah, maka bermaksiatlah di suatu tempat yang Ia tidak melihatmu!”.

Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu, sedangkan Ia selalu bersama kita, dimanapun kita berada?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Tidakkah Anda malu bermaksiat kepadanya sedangkan Dia lebih dekat denganmu?”

Jika Anda tetap bersikeras bermaksiat kepada Allah, maka jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya, “Tunggulah sampai sebentar aku tobat” kata Ibrahim bin Adham. “Lantas siapa yang memiliki kekuasaan menunda kematian seperti itu?” Tanya laki-laki itu.

Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu, saat datang malaikat maut sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat?”

Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Jika Anda enggan menghentikkan perbuatan maksiat kepada Allah, tiba-tiba datang para malaikat Zabaniah Jahanam menyeret Anda masuk neraka, maka katakan kepada mereka, bahwa Anda tidak ingin pergi bersama mereka!”

“Bagaimana mungkin saya bisa seperti itu?” Tanya laki-laki tersebut.

Akhirnya Ibrahim bin Adham mengakhiri wejangannya dengan mengatakan, “Tidakkah Anda malu kepada Allah setelah mengetahui seluruh penjelasan ini?!”

Amru Khalid, 2002. Semulia akhlak nabi. Aqwam:, kartassura.