Perkataan Ibnul Qayyim Tentang Cinta

Seorang ‘alim faqih. Ibnul Qayyim-semoga Allah senantiasa merahmatinya- dalam bukunya yang berjudul ‘al Jawab al-Kafii Liiman Sa’la ‘an ad-Da’waa ‘asy-Syaafii” (jawaban tuntas untuk orang yang bertanya tentang obat yang menyembuhkan segala macam penyakit) menjelaskan,

“Cinta itu merupakan sendi kehidupan hati dan makanan pokok jiwa. Hati tidak akan dapat merasakn kelezatan , kenikmatan, kebahagiaan dan kehidupan tanpa cinta di dalamnya. Apabila hati telah kehilangan cinta maka penderitaannya serasa lebih sakit daripada derita yang dialami oleh mata di kala kehilangan cahayanya, dan hidung dikala kehilangan penciumannya, serta lisan dikala ia kehilangan suaranya. Bahkan hati ketika didalamnya hampa akan cinta terhadap Sang Penciptanya, sakitnya akan lebih dahsyat dari rusaknya tubuh karena sakit jiwanya. Perkara ini sulit untuk dipercaya kebenarannya, kecuali bagi orang yang hidup hatinya”.

Cinta yang terpuji, ialah cinta yang bisa mendatangkan kepada pemilik cinta itu hal-hal yang memberinya manfaat di dunia maupun di akhirat. Maka cinta yang seperti ini merupakan muara sebuah kebahagiaan. Adapun cinta yang tercela adalah cinta yang bisa mendatangkan kepada pemiliknya hal-hal yang membawanya kepada kerugian dunia dan akhirat. Dan cinta semacam ini adalah sumber penderitan dan duka lara.

Imam ibnul qayim, dalam kitabnya  Penyakit dan Obat Penawarnya mengungkapkan, bahwa perasan cinta dan kerinduan dapat melunakan jiwa serta memperindah akhlak budi pekerti. Menampakan perasaan tersebut adalah yang alami. Sementara menutup-nutupi dan menyembunyikanya merupakan hal yang mengada-ada dan berlebihan. Beliau juga menuturkan, para ulama berkata, ”Kita tidak memungkiri tentang rusaknya cinta, di mana faktor pemicunya berupa perilaku buruk lagi keji dengan sesama manusia. Namun, sesunguhnya tema yang kita bicarakan disini hayalah seputar perasaan cinta yang suci dari seorang laki-laki yang cerdas, yang tidak akan pernah membiarkan agama, kesucian, kehormatan serta harga dirinya. Yang mengakibakatkan jalinan cintanya dengan Allah menjadi rusak, hanya karena jalinan cinta dengan kekasihnya yang haram. Inilah sebenarnya perasaan cinta dan kerinduan generasi ulama dahulu dan pemimpin-pemimpin umat yang tersohor.

About smartlearner
I'm only ordinary people..., integrity, indeferrent... (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: